LAPORAN TETAP PRAKTIKUM BIOKUMIA II

Tape
Singkong
Nama : Wiwit
Apriliyani
NIM : 06101181320036
Kelompok : 3
( tiga )
Anggota : 1. Arif Fardilah
2. Agustin Kurniati
3. Ayu Lestari
4. Devi Komalasari
5. Liza Susuila Dewi
6. Nurul
Hakima
Dosen Pembimbing : Desi S.Pd.,M.T
Diah Kartika Sari, S.Pd., M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEEGURUAN
DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SRIWIJAYA
2016
LAPORAN
TETAP PRAKTIKUM
BIOKIMIA
I.
Percobaan
ke : 11
II.
Judul
percobaan : Pembuatan Tape Singkong
III.
Tujuan : Setelah
melakukan percobaan ini praktikan dapat
mengetahui proses pembuatan dan proses fermentasi pada tape singkong.
IV.
Landasan Teori :
Singkong
(Manihot utilisima), merupakan tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan
makanan alternatif. Kandungan karbohidrat umbi singkong sangat tinggi, yaitu
sekitar 34-38 persen, dan mengandung energi 146-157 kkal per 100 gram. Selain
kandungan karbohidratnya yang tinggi, singkong mudah tumbuh di wilayah Indonesia
dan hanya membutuhkan tanah yang gembur agar hasilnya dapat baik. Singkong
dapat dipanen 6-24 bulan setelah ditanam. Oleh karena itu, singkong merupakan
sumber energi yang cukup murah.
Di Indonesia,
ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung.
Manfaat daun ketela pohon sebagai bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi,
atau untuk keperluan yang lain seperti bahan obat-obatan. Kayunya bisa
digunakan sebagai pagar kebun atau di desa-desa sering digunakan sebagai kayu
bakar untuk memasak. Dengan perkembangan teknologi, ketela pohon dijadikan
bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri pakan. Selain itu
digunakan pula pada industri obat-obatan.
Tape
merupakan makanan fermentasi tradisional
yang sudah tidak asing lagi. Tape dibuat
dari beras, beras ketan, atau dari singkong
(ketela pohon). Berbeda dengan makanan-makanan
fermentasi lain yang hanya melibatkan
satu mikroorganisme yang berperan utama,
seperti tempe atau minuman alkohol, pembuatan
tape melibatkan banyak mikroorganisme.
Tape
singkong adalah tape yang dibuat dari singkong
yang difermentasi. Makanan ini populer
di Jawa dan dikenal di seluruh tempat, mulai
dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Di Jawa
Barat, tapai singkong dikenal sebagai peuyeum
(bahasa Sunda). Pembuatan
tapai melibatkan umbi singkong sebagai
substrat dan ragi tapai (Saccharomyces cerevisiae)
yang dibalurkan pada umbi yang telah
dikupas kulitnya. Ada dua teknik pembuatan
yang menghasilkan tapai biasa, yang
basah dan lunak, dan tapai kering, yang lebih
legit dan dapat digantung tanpa mengalami
kerusakan.
Berdasarkan
uraian di atas, dapat disimpulkan mikroorganisme
yang terdapat di dalam ragi tape
adalah kapang Amylomyces rouxii, Mucor sp.,
dan Rhizopus sp.; khamir Saccharomycopsis fibuligera,
Saccharomycopsis malanga, Pichia burtonii,
Saccharomyces cerevisiae, dan Candida
utilis; serta bakteri Pediococcus sp. dan
Bacillus sp. Kedua kelompok mikroorganisme
tersebut bekerja sama dalam menghasilkan
tape.
Mikroorganisme
dari kelompok kapang akan menghasilkan
enzim-enzim amilolitik yang akan
memecahkan amilum pada bahan dasar menjadi
gula-gula yang lebih sederhana (disakarida
dan monosakarida). Proses tersebut sering
dinamakan sakarifikasi (saccharification).
Kemudian khamir akan merubah
sebagian gula-gula sederhana tersebut
menjadi alkohol. Inilah yang menyebabkan
aroma alkoholis pada tape. Semakin
lama tape tersebut dibuat, semakin kuat
alkoholnya. Pada beberapa daerah, seperti Bali
dan Sumatera Utara, cairan yang terbentuk dari
pembuatan tape tersebut diambil dan diminum
sebagai minuman beralkohol.
Proses
pembuatan tape melibatkan proses fermentasi
yang dilakukan oleh jamur Saccharomyces cerivisiae.
Jamur ini memiliki kemampuan
dalam mengubah karbohidrat (fruktosa
dan glukosa) menjadi alcohol dan karbondioksida.
Selain Saccharomyces cerivisiae,
dalam proses pembuatan tape ini terlibat
pula mikrorganisme lainnya, yaitu Mucor
chlamidosporus dan Endomycopsis fibuligera.
Kedua mikroorganisme ini turut membantu
dalam mengubah pati menjadi gula sederhana
(glukosa).
Fermentasi
adalah proses produksi energy dalam
sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen).
Secara umum, fermentasi adalah salah
satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi,
terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan
fermentasi sebagai respirasi dalam
lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor
elektron eksternal.
Gula
adalah bahan yang umum dalam fermentasi.
Beberapa contoh hasil fermentasi adalah
etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi
beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan
dari fermentasi seperti asam butirat dan
aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum
digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan
etanol dalam bir, anggur dan minuman
beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik
dalam otot mamalia selama kerja yang
keras (yang tidak memiliki akseptor elektron
eksternal), dapat dikategorikan sebagai
bentuk fermentasi.
V.
Alat dan Bahan :
Alat
:
- Kompor - Pisau
- Panci - Baskom
- Pengaduk - Saringan
- Sendok
Bahan
:
- Singkong
1 kg
- Ragi
tape secukupnya
- Air
secukupnya
- Daun
pisang
VI.
Prosedur Percobaan :
1)
Pilih singkong yang bagus dan rata,
kemudian kupas, dipotong – potong sesuai selera dan dicuci bersih.
2)
Kemudian singkong tadi direbus sampai
matang kemudian ditiriskan.
3)
Singkong dari hasil rebusan tadi didinginkan.
4)
Sediakan ragi tape secukupnya. Taburkan
ragi halus ke singkong – singkong yang sudah dingin sampai rata.
5)
Sediakan tempat untuk menyimpan singkong
yang sudah ditaburi ragi tersebut, bisa memakai plastik ataupun memakai daun pisang atau daun
jati.
6)
Fermentasi
bungkusan singkong tersebut kurang lebih 3 hari.
7)
Setelah 3 hari bukalah bungkusan singkong
tersebut, dan tape singkong siap dinikmati.
VII. Diagram
Alir :

VIII. Hasil
Pengamatan :
Pembuatan tapai dengan singkong
|
Bau
|
Rasa
|
Warna
|
Tekstur
|
Kematangan
|
Kadar air
|
|
Bau
alkohol
|
Manis
|
Putih
|
Lembut
|
Matang
|
sedikit
|
IX.
Analisa
Data
Perhitungan
massa ragi tape yang digunakan.
Massa
ubi = 1 kg = 1000 gram
Persentase
ragi tape yang digunakan = 1%
Massa
ragi = massa singkong X
persentase ragi.
= 1500 gram X 1%
= 1500 gram 
= 1500 gram X 0,01
= 10 gram
Perhitungan Rendemen Tape
Massa
ubi = 1 kg = 1000 gram
Massa
tape = 950 gram
= 95 %
X.
Mekanisme Reaksi :


XI.
Pembahasan :
Penggunaan alat dan bahan pada praktikum ini mempunyai tujuan dan fungsinya
masing-masing. Seperti, singkong yang digunakan sebagai bahan dasar dan
nantinya sebagai substrat bagi khamir Saccharomyces cerevisiae dalam
proses fermentasi. Ragi disini berfungsi
dalam mempercepat fermentasi tape singkong karena pada ragi terkandung khamir Saccharomyces
cerevisiae. Daun pisang digunakan untuk membungkus singkong yang telah
dicampur ragi agar dapat berlangsung fermentasi karena apabila telah dibungkus
suasananya akan bersifat anaerob.
Pemasakan menentukan tekstur dan penampakan produk olahan tape yang akan
dihasilkan. Pengukusan singkong hingga matang akan menghasilkan tekstur tapai
yang lebih lembut dibandingkan dengan pengukusan singkong yang setengah matang
akan menghasilkan tekstur tape yang lebih keras. Pendinginan berfungsi untuk mengontrol kondisi proses. Pemasakan yang
kurang akan merusak kehidupan organisme dari inokulum yang diberikan.
Sementara,pendinginan yang terlalu lama
akan menyebabkan kontaminasi .Pengukusan singkong dilakukan dalam waktu 0,5 jam
untuk melunakkan singkongdan agar enzim mikroba dapat bekerja dengan baik.
Proses peragian bergantung dengan cara pencampuran singkong dengan ragi. Apabila pencampuran tidak baik akan menyebabkan fermentasi kurang sempurna dan menimbulkan kerusakan. Ragi yang ditambahkan
biasanya kurang dari 1% atau 10 gram per kilogram singkong yang
digunakan.
Fermentasi yang
baik dilakukan pada suhu 28-30 0C dan membutuhkan waktu 45 jam. Fermentasi dilakukan di dalam baskom yang
dibungkus dengan daun pisang yang bersih dikerudungi dan ditutupi
dengan rapat-rapat. Fermentasi yang tertutup akan mencegah terjadinya kontaminasi. Suhu berpengaruh kepada kecepatan
fermentasi, meskipun suhu yang lebih rendah dari 25 0C akan menghasilkan
produk dengan kadar alkohol yang tinggi pada fermentasi 144 jam. Tape dapat
bertahan 2 ± 3 hari bila di fermentasi pada suhu kamar. Apabila fermentasi
dalam suhu kamar melebihi hasil yang didapatkan akan rusak. Bila dikemas dengan
cangkir plastik dan disimpan dalam lemari es akan bertahan selama 2
bulan akan tetapi teksturnya akan rusak yaitu menjadi keras.
Reaksi
yang terjadi dalam fermentasi singkong
menjadi tape adalah glukosa (C6H12O6)
yang merupakan gula paling
sederhana, akan menghasilkan etanol (2C2H5OH). Reaksi fermentasi
ini dilakukan oleh ragi, dan digunakan
pada produksi makanan. C6H12O6
+ 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP
Hasil tape singkong yang telah difermentasi selama 3 hari
yaitu memiliki rasa manis, tekstur singkong lebih lembut dibandingkan sebelum
difermentasi, serta menghasilkan aroma alkohol yang khas.
XII. Kesimpulan :
1. Pembuatan
tape termasuk dalam bioteknologi
konvensional (tradisional) karena
masih menggunakan cara-cara yang terbatas.
2. Pada
proses pembuatan tape, ragi akan
memakan glukosa yang ada di dalam singkong
sebagai makanan untuk pertumbuhannya,
sehingga singkong akan menjadi
lunak, jamur tersebut akan merubah
glukosa menjadi alkohol.
3. Dalam
pembuatan tape, ragi (Saccharomyces cereviceae) mengeluarkan enzim yang dapat memecah karbohidrat pada singkong menjadi gula yang lebih sederhana. Oleh karena itu, tape terasa manis apabila sudah matang walaupun tanpa diberi gula sebelumnya.
4. Fermentasi yang baik dilakukan pada suhu 28-30 0C dan
membutuhkan waktu 45 jam. Fermentasi
dilakukan pada wadah tertutup, karena fermentasi yang tertutup akan mencegah terjadinya kontaminasi.
5. Proses pencampuran ragi yang tidak baik akan menyebabkan fermentasi kurang
sempurna dan menimbulkan kerusakan. .
6. Kegagalan
dalam pembuatan tape biasanya dikarenakan
enzim pada ragi Saccharomyces cereviceae tidak
pecah apabila terdapat udara yang mengganggu proses pemecahan enzim tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ajuz, Yayan.
2012. Laporan
Pembuatan Tape Ketan dan Tape Singkong. (online), (http://yayanajuz.blogspot.com/2012/06/laporan-pembuatan-tape-ketan-dan-tape.html, diakses tanggal 23 April 2016).
Choirunissah, Siti
Afifa. 2013. Laporan Praktikum Bioteknologi Proses. (online), (http://afifaasac.blogspot.com/2013/11/laporan-praktikum-bioteknologi-proses.html, diakses tanggal 23 April 2016).
Husnaa, Fauziah. 2011. Laporan Pembuatan Tape Singkong. (online), (http://fa-husnaa.blogspot.com/2011/02/laporan-pembuatan-tape-singkong.html?m=1, diakses tanggal 23 April 2016).
Wijai, Sigit. 2011. Mari
Belajar : Cara Pengolahan Tapai Singkong. (online), (http://sigitwijai.blogspot.com/2011/10/cara-pengolahan-tapai-singkong.html, diakses 23 April 2016).
Yanti. 2012. Makalah
Tape. (online), (http:// yanti pembelajar sejati. Blogspot .com / 2012/06/makalah-tafe.html?m=1, diakses tanggal 23 April
2016).
LAMPIRAN



Singkong berwarna putih singkong setelah
direbus singkong diberi ragi
dikukus dan didinginkan


Singkong yang akan difermentasi tape singkong yang telah jadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar